Sabtu, 26 Agustus 2017

Ingin jadi jangkrik

Dimalam yang sepi lagi sunyi lagi murung lagi buram. Aku bertemu seokar jangkrik yang sedang asyik bersiul, wajahnya dingin, siulannya tenang dan menenangkan. Aku menghampirinya dan menegurnya"krik, apa kau tidak takut sendirian dimalam hari lagi sepi ini?" Tanyaku padanya. Mendengar pertanyaan itu, dia malah membesarkan siulannya sesekali memasang bibir cengengesan. "Aku tidak punya apapun kecuali malam, hanya dia dan sepinya yang memberiku ruang bersiul, apa masuk akal jika aku harus takut?" Ucapnya dengan percaya diri.

Obrolan kami sementara harus kandas sampai disitu, aku tidak ingin bertanya panjang lebar disaat dia sedang sibuk bersiul dan berdansa. Kupikir dia akan mengamuk jika kenikmatan pertapaannya diganggu suara-suara termasuk suaraku. Dua jam kutunggu dia bersiul dan berdansa, kupelajari setiap bunyi siulnya dan kutemui ada ritme yang indah dan berulang-ulang. Krik krik krik, suara itu terus berulang kudengar dan resapi sehingga membuat bunyinya berbeda"kuuuuuuk" sepertinya dia sedang memuji dirinya sendiri seperti hallaj atau albastomi dalam dunia sufi.

Dia berhenti, lalu kudekati untuk kedua kalinya. Kali ini pertanyaanku lumayan rumit bagiku "krik, apa Tuhanmu?" Dia tertawa lepas dan memasang muka mengejek. "Untuk apa kau tanya aku Tuhan? Sekalipun ku beberkan Tuhanku, bangsamu tetap saja doyan membunuh bangsa kami" apa Tuhanmu? Kutekan suaraku, "Tuhanku tidak tergambar, setahuku dia maha lembut dan tidak tega" dia membalas dengan hentak pula. Aku terdiam, sepi pun leluasa menari. Sesekali dia memandangku penuh cinta, dan saat itu, aku bercita-cita menjadi jangkrik agar bisa akrab dengan malam yang selama ini kuanggap kejam. Yang membuatku tertarik juga karna jangkrik bisa menyederhanakan Tuhan, tidak seperti saya dan mungkin manusia yang lain, sibuk mencari Tuhan dengan mempertanyakan"agamamu apa". Bagiku itu pertanyaan tidak perlu, soal agama saja terkadang kita berani menjadi tuhan itu sendiri.

Sampai dirumah, kutemui ayahku yang sedang menikmati kopi hitamnya. "Yah, aku ingin jadi jangkrik" dia tidak marah, malah mengatakan"ayah dulu ingin jadi babi" tapi sayang ibumu terlalu membeci babi karna alasan nakjis akhirnya ayah memilih menjadi laron.

Aku bengong, ternyata aku keturunan manusia yang bosan menjadi manusia. Karna alasan apa, aku tak tahu intinya, menjadi manusia itu ribet. Harus bersaing dalam hal apapun sampai-sampai surga pun manusia bersaing. Ada yang mengkapling itu surga, ada yang menciptakan surga untuk dirinya sendiri dan kelompok.aah, jadi jangkrik kan lebih seru, bisa menikmati malam walau hanya dengan siulan.

Salam jangkrik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar