Sabtu, 26 Agustus 2017

Didi





            Selamat wisuda ya co, didi menepuk pundakku, tangannya kurasa lebih halus dari sutra dan lebih harum dari kasturi. Gadis yang ku kenal saat berkuliah di universitas gajah mada itu memang senang memberi kejutan. Aku ingin mengabadikan ini semua dalam museum hatiku. Tepukannya itu kurasa menjadi alasan tuhan untuk mempertahankan hidupku yang tidak berguna ini sampai sekarang.
            “kamu mau kemana setelah ini”
            “entahlah, aku mau mencari cincin di film Dan, kau masih ingat film itu”?
            “iya, kau lucu, untuk apa usahamu itu?”
            “aku ingin hilang, agar membututimu setiap saat”
            Suara bel mobil tiba-tiba terdengar, aku benci suara itu, dia mengganggu dialog abadiku. Didi melambaikan tangan kirinya, sementara yang kanan membuka pintu mobil. Sedikit demi sedikit tubuhnya dimakan oleh mobil avanza itu. Aaah, kurasa dia juga pasti merindukanku, merindukan setiap detik yang kita lompati berdua, merindukan angin yang kita bingkai menjadi boneka, merindukan pelangi yang kita cipta dari air liur berdua dan merindukan diri keduanya yang bersemayam didadaku.
            Setelah hari bahagia itu, aku rasa kebahagiaan itu hal yang langka. Bagi mahasiswa yang baru lulus, wisuda adalah gerbang kebahagiaan abadi tapi bagiku itu hanya seremonial belaka. Setelah wisuda pun kita masih saja merindu, menangis, mengeluh dan sesekali menghujat. Wisuda hanya cara penguasa membudidayakan kita dan sialnya, aku juga terperangkap.
            Bahagia memang langka, terlebih satu bulan ini didi tidak mengirim pesan kepadaku. Aku pikir dia sibuk membantu ibunya memasak. Setinggi-tinggi apapun pendidikan wanita di Indonesia, kecerdasan mereka diukur dari masakannya. Didi itu pintar sekali meracik makanan, dia bisa membuat pelecing rasa coklat, soto rasa es krim dan itu masakan paling gila yang pernah kucicipi.
            Ku isi hari-hari sepi itu dengan melamun, memandangi foto cantiknya yang sengaja kupajang pada dinding kamarku. Aku rasa kamu gadis bodoh dan pemberani, meninggalkan lelaki yang sanggup membawamu terbang menemui bintang, melamun berdua di teras bulan, dan sesekali menyelinap di sayap jibril meminta wahyu keabadian cinta kita.  Ya, kurasa kamu gadis pemberani dan juga bodoh. Aku terus menenangkan diri dengan mengumpat dan memuji fotonya. Belum juga pesan dari didi berbaris didinding hp ku. Sudah hampir dua bulan ini, masih sepi, hanya foto itu yang sanggup menghibur dan mematikan tawaku. Aku rasa dengan menyebut-nyebut namanya sebelum tidur akan menjadi azimat dia mendatangiku.
            Aku mendengar dentak jantungnya dibalik jendelaku, ku temui dia dan kutanya, “dimana pemilikmu?” Jantung itu meleleh dalam tangisan, merunduk dan mengendus kakiku. Aku angkat dia dan kuciumi lekat-lekat. “Dimana pemilikmu?” Ku Tanya lagi dia dengan nada yang agak sedih. Dia meleleh bagai es dibakar api, aku berusaha mengekalkannya tapi suara ocehan ibu lebih keras dan membuatku terbangun dari tidur. Siaal, itu hanya mimpi. Tapi bukankah mimpi terkadang juga bisa menjadi isyarat? “gumamku dalam hati”, yusuf bisa menjadi penguasa mesir karna kecerdasannya menerka mimpi bahkan semua nabi-nabi itu diberikan wahyu salah satunya melalui mimpi. Aku terdiam sejenak sambil menunggu nyawaku sempurna memasuki jasadku. Aku kembali memandangi foto itu, kulihat dia tambah cantik pagi ini.
            Jasadku sudah kembali bugar tapi tidak hatiku, dia mengambang diantara galaksi, dibawa arus air seperti ubur-ubur, dia tidak tenang, dia bergelombang dan berteriak mencari serpihannya yang hilang. Hatiku memang telah lama bersatu dengan hatinya, dia memberontak jika berusaha dipisahkan seperti saat ini. Aku terus menunggu pesannya, beberapa kali kubolak balik hp tetap saja pesannya belum kunjung datang. Waktu berputar tanpa kompromi, dia melibas semua mimpi dan mencipta danau kenangan. Aku melihat cahaya matahari banci sekali, dia gagal menerangi gelapnya relung hatiku, aku benci matahari dan lekas masuk kamar, ku tutup semua jendela dan lubang yang bisa membawa sinar. Gelap, betul-betul gelap. Aku lebih nyaman gelap begini, imajinasiku dengan mudah terbang menemui didi membawanya kealam setan. Kadang-kadang, aku sering memerkosanya dialam itu.
            Sudah memasuki dua bulan ini dia belum juga mengirim kabar, badanku sudah tak ku urusi, dia betul-betul rusak dan lusuh. Jarang disentuh air, korengan dan kutil membangun istana megah disetiap jengkal kulitku. Aku terus terpuruk, batinku remuk tapi cintaku padanya tidak pernah kubiarkan lusuh seperti badanku. Setiap detik ku melamuni wajahnya setiap itu pula kujatuh cinta. Sesekali, aku menitip kerinduan lewat angin kentutku, kentut itu kuanggap kawan terjujur, dia selalu menyampaikan pesan apa adanya. Dia tidak pernah ingin menjadi wangi, dia apa adanya, persis seperti kerinduanku yang tidak menuntut apa-apa kecuali menemui dan melihat senyumannya.
            Pintu rumahku berbunyi, aku rasa itu tamu ayahku yang sibuk berbisnis jamur tiram. Dugaanku salah, saat ku buka pintu itu, ternyata hanya tukang pos yang memberikanku sebuah kado. Aku heran betul, kurasa hari ini bukan ulang tahunku, bukan pula hari jadian ayah dan ibuku. Aaah, kuambil saja, biar nanti didalam kulihat isinya. Ku buka isi kado itu ternyata isinya buku “sejarah yang disembunyikan” karya jonatan black. Aku semakin heran, buku ini telah lama ingin ku miliki dan hanya didi yang tau keinginanku itu. Ku buka isinya, dihalaman pertama ada kertas kecil semisal amplop surat. Ku tutup buku itu dan ku ambil amplop itu lalu ku baca isinya.
            Untukmu lelakiku,
aku ingat cita-citamu yang ingin mencari cincin ajaib itu, katamu” cincin itu bisa membuat aku hilang” kamu memang lucu dan bodoh co, sebab itu aku jatuh hati padamu. Selama dua bulan ini kamu tidak sadar ya? Aku hilang karna sudah menemukan cincin itu hahaha kamu pasti tersenyum membaca ini , bodoh. Selama dua bulan ini aku membututimu, aku tahu kerinduanmu, aku tahu kesedihanmu, kesepianmu, kesendirianmu, ketidak berdayaanmu, kemirisanmu dan kedalaman cintamu. Aku tulis semua itu dalam dua kata “ kita sama”. Aku juga merindukan semua yang ada pada dirimu.
                                                                                     From : Didi
Senyumku mulai mengembang setelah membaca tulisan itu. Dia memang benar-benar gadis bodoh dan suka membuat kejutan. Ku lepas amplop itu dan kulanjutkan membaca buku jonatan black. Dihalaman ketiga, ketika buku itu menyinggung tentang sejarah gerakan mistik bawah tanah, ku jumpai amplop yang sama seperti dihalaman pertama. Aku tersenyum “dasar bodoh, kejutan apalagi ini” ucapku dengan mimik muka sedikit senang dan penasaran. Ku buka amplop itu dan ku baca isinya.
Untukmu lelaki impian
Jika kamu ingin menghilang untuk membututiku, maka aku ingin kau membututiku sampai gerbang rumah saja atau sampai pintu masjid. Aku tidak ingin melihat keributan jika kau memasuki rumah dan masjid, “kau orangnya kan rusuh hee”. Kamu lebih percaya cinta atau takdir? Tentu kamu harus memilih salah satunya. Saat bersamamu, aku meyakini cinta diatas segalanya, cintamu yang membuatku lupa akan diriku, cintamu yang membuatku meyakini keindahan masa depan, cintamu yang membuatku terbius dalam kenikmatan berdua.
Lelaki impianku,
Cintamu yang tidak terukur itu ternyata tidak bisa merubah ketetapan sang maha pencipta, Tuhan. Aku tidak mengerti mengapa dia menumbuhkan buih cinta pada hati kita berdua namun disaat yang sama Tuhan pula tengah membangun tembok raksasa untuk jasad kita. Selama dua bulan ini, aku menghabiskan waktu murung dikamar, saat ku dengar seorang lelaki telah menemui ayah dan ibu untuk melamarku. Mereka berdua setuju dengan alasan yang sulit ku lawan. Lelaki itu baru saja menyelesaikan study s1-nya di universitas al-azhar mesir. Ku rasa semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, aku tidak ingin menyalahkan mereka. Aku merenung, sesekali ku coba meyakini ayah akan lelaki pilihanku –kamu- namun hasilnya tidak kunjung membuat ayah seyakin ketika melihat pemuda itu. Aku seperti berada dalam gua yang gelap, didepanku ada jurang dan jembatan kecil. Aku tidak bisa memutuskan berjalan jika tanpa ada cahaya. Menunggu cahaya digua yang gelap kurasa tidak mungkin kecuali matahari bisa memasuki gua itu sayangnya, dia teramat dalam dan gelap. Aku ingat, saat cahaya sukar dicari masih ada mata batin yang siap menuntun kaki kita untuk berjalan. Namun aku masih saja bingung, bagaimana cara mengoprasikan mata batin ini. aku lalu mengingat nasihatmu ketika kita menghabiskan waktu ditaman itu. Kamu pernah ngomong gini “jika dalam kebingungan menentukan pilihan maka usahakan shalat istihoroh, jika kamu tidak PD dengan shalat istihorohmu maka mintalah pendapat pada ibumu, bagiku ibu adalah wujud hidup dari shalat istihoroh itu” aku mengambil jalan kedua itu. Aku tanya  ibu tentang lelaki itu dan dirimu ternyata ibu menyarankanku untuk menerima pinangan lelaki itu. Ooh iya, namanya mas Agus. aku ingin kamu mengerti dan menerima jalan takdir kisah ini co.
                                                                                       From : didi
            isi surat itu membuat bibirku kering, dan jantungku berdetak kencang sekali seakan dia akan keluar dari tubuhku. Semuanya terlihat gelap. Kusobek surat itu dengan kekecewaan dan kebencian. Hidupku terasa di neraka, kobaran api menyala-nyala membakar semua tubuhku. Yang ada hanya rasa “kecewa”. Seharian ku tutup wajahku dengan selimut putih yang dulu pernah didi berikan. Aku terenyuh memohon agar Tuhan membalik takdir itu dalam waktu sesingkat-singkatnya. Malam itu aku tidur membawa kekecewaan dan dendam penghianatan.
            Waktu terus berjalan tanpa kompromi, dia melibas semua dan menciptakan danau kenangan. Tiba-tiba, teriakan ayam membuatku terbangun, ku tutup rapat lagi mataku, aku tidak ingin melihat dunia,. Kurasa berpura-pura mati atau mati beneran jauh lebih berharga dibanding hidup menerima kenyataan didi tidak berjalan bersamaku. Alam sadarku mulai tidak terkontrol, emosi meninggi karna kekecewaan yang menimpa diri. Ku berusaha mencabut nyawaku sendiri dengan meneguk baygon yang bersandar rapi dimeja kamar. Seteguk baygon itu sudah masuk ke leherku, otak ku tiba-tiba pusing dan penglihatanku buyar dan pudar. Duaaar dan sepi. Tidak ku sadar tubuhku sudah lemas dan tidak berdaya. yang ku ingat hanya kekecewaan dan penghianatan. Ayah dan ibu menceritakan keadaanku setelah mereka melarikanku kerumah sakit. Satu jam lebih mereka menungguku siuman dan kemudian menanyakanku alasan semua ini. Aku terkejut, kenapa aku tidak mati saja, dan saat itu memang aku ingin sekali mati tapi takdir berkata lain.
            Aku merenungi takdir itu dalam-dalam. Antara racun itu terlalu sedikit kuminum sehingga tidak membuatku mati atau itu memang takdir? Aku terus bertanya pada diriku sendiri. Jika takdir yang masih memberikanku hidup sampai detik ini, apakah takdir juga yang membuat didi harus pergi? Perlahan aku mulai sadar dan mengerti bahwa cinta tidak bisa berbahasa apa-apa dihadapan takdir namun disisi lain, takdir itu ada dilandasi oleh cinta Tuhan kepada makhluknya. Kesimpulannya, cinta tanpa disanding dengan memohon kepada yang menciptakan takdir itu akan berakhir dengan tragis, dan memohon takdir tanpa dilandasi cinta hasilnya akan tragis pula.
            Sepulang dari rumah sakit itu, aku insaf betul bahwa bukan cinta yang berkuasa tapi yang menciptakan cinta itu sendiri dengan takdir yang telah dia tetapkan. Jika dia, yang maha cinta itu sudah berkata A maka, kejadian A pun akan terjadi. Termasuk kandasnya cinta si laila dan majnun, romeo dan Juliet, kabayan dan siti nurbaya, dan kisah cintaku. Aku berharap agar semua pecinta tidak melupakan yang menciptakan cinta dan takdir itu. Hanya Dia-lah yang patut untuk disambangi, dzat yang paling sempurna tempat mengeluh dan meminta. Dia-lah cinta sejati, yang mampu berbahasa berbeda dalam satu keadaan, wujudnya tersembunyi namun sangat Nampak. Dialah rahasia yang tersembunyi itu.

Ingin jadi jangkrik

Dimalam yang sepi lagi sunyi lagi murung lagi buram. Aku bertemu seokar jangkrik yang sedang asyik bersiul, wajahnya dingin, siulannya tenang dan menenangkan. Aku menghampirinya dan menegurnya"krik, apa kau tidak takut sendirian dimalam hari lagi sepi ini?" Tanyaku padanya. Mendengar pertanyaan itu, dia malah membesarkan siulannya sesekali memasang bibir cengengesan. "Aku tidak punya apapun kecuali malam, hanya dia dan sepinya yang memberiku ruang bersiul, apa masuk akal jika aku harus takut?" Ucapnya dengan percaya diri.

Obrolan kami sementara harus kandas sampai disitu, aku tidak ingin bertanya panjang lebar disaat dia sedang sibuk bersiul dan berdansa. Kupikir dia akan mengamuk jika kenikmatan pertapaannya diganggu suara-suara termasuk suaraku. Dua jam kutunggu dia bersiul dan berdansa, kupelajari setiap bunyi siulnya dan kutemui ada ritme yang indah dan berulang-ulang. Krik krik krik, suara itu terus berulang kudengar dan resapi sehingga membuat bunyinya berbeda"kuuuuuuk" sepertinya dia sedang memuji dirinya sendiri seperti hallaj atau albastomi dalam dunia sufi.

Dia berhenti, lalu kudekati untuk kedua kalinya. Kali ini pertanyaanku lumayan rumit bagiku "krik, apa Tuhanmu?" Dia tertawa lepas dan memasang muka mengejek. "Untuk apa kau tanya aku Tuhan? Sekalipun ku beberkan Tuhanku, bangsamu tetap saja doyan membunuh bangsa kami" apa Tuhanmu? Kutekan suaraku, "Tuhanku tidak tergambar, setahuku dia maha lembut dan tidak tega" dia membalas dengan hentak pula. Aku terdiam, sepi pun leluasa menari. Sesekali dia memandangku penuh cinta, dan saat itu, aku bercita-cita menjadi jangkrik agar bisa akrab dengan malam yang selama ini kuanggap kejam. Yang membuatku tertarik juga karna jangkrik bisa menyederhanakan Tuhan, tidak seperti saya dan mungkin manusia yang lain, sibuk mencari Tuhan dengan mempertanyakan"agamamu apa". Bagiku itu pertanyaan tidak perlu, soal agama saja terkadang kita berani menjadi tuhan itu sendiri.

Sampai dirumah, kutemui ayahku yang sedang menikmati kopi hitamnya. "Yah, aku ingin jadi jangkrik" dia tidak marah, malah mengatakan"ayah dulu ingin jadi babi" tapi sayang ibumu terlalu membeci babi karna alasan nakjis akhirnya ayah memilih menjadi laron.

Aku bengong, ternyata aku keturunan manusia yang bosan menjadi manusia. Karna alasan apa, aku tak tahu intinya, menjadi manusia itu ribet. Harus bersaing dalam hal apapun sampai-sampai surga pun manusia bersaing. Ada yang mengkapling itu surga, ada yang menciptakan surga untuk dirinya sendiri dan kelompok.aah, jadi jangkrik kan lebih seru, bisa menikmati malam walau hanya dengan siulan.

Salam jangkrik

Kamis, 24 Agustus 2017

Membincang Tuhan bareng pak emet


Joko pemuda liar dan nakal. Dia tidak suka dibatasi oleh aturan apapun termasuk agama. "Kenakalan adalah guru terbaik" ya, memang benar pepatah yang sempat ku baca dari pemilik blog Reza nufa itu. Berbeda dengan joko, akbar adalah pemuda taat beragama, taat semua aturan sampai aturan gosok gigi dan berak pun dia selalu perhatikan. Pemuda disiplin dan selalu memperhitungkan waktu.

Keduanya seperti minyak dan air, tidak bisa diketemukan. Seperti langit dan bumi, jauh sekali. Namun tetap bisa saling berbaur dan berdialog. Joko dan akbar memang tidak pernah berpendirian sama, mereka selalu berbeda tapi asyiknya, perbedaan itu membuat mereka semakin romantis berkawan. Mereka tetap berdialog tentang agama, lebih-lebih mengenai eksistensi Tuhan.

Joko si liar, selalu mempertanyakan keberadaan Tuhan yang sering dikaitkan dengan pencipta alam ini. Apa itu Tuhan? Kalau memang Tuhan betul-betul ada, kenapa kita tidak bisa melihatnya padahal dia kan maha nampak(al-zohir)? Pertanyaan semacam ini terus bergelinding dibenak si joko.

Pernah suatu pagi, ketika keduanya duduk bersama diteras rumah pak emet lelaki tua yang senang mengajak pemuda ngopi diterasnya. Pagi itu, keduanya berdialog tentang Tuhan, Manusia dan Alam. Joko memulai dialog itu dengan statmen yang agak nyeleneh "Alam ini ada karna tiba-tiba, tidak ada sangkut paut Tuhan menciptakan alam". Akbar cengengesan, dia meneguk kopi hitam yang menggoda bibir keringnya. "Lalu jika alam ini ada karna tiba-tiba, bagaimana mungkin dia bisa bergerak dengan hukum yang begitu teratur?, lagi pula, jika kita menela'ah pendapat beberapa filsuf yunani atau pun muslim tentang yang maujud(diadakan) mereka berpendapat bahwa setiap sesuatu yang 'Ada' pasti ada yang mengadakannya(baca:menciptakannya). Lebih lanjut akbar berargumen "kopi ini ada karna pak emet mengolahnya, pak emet ada karna lahir dari rahim ibunya, ibu dari ibunnya pak emet lahir dari rahim ibunya juga sehingga akan ada miliaran ibu dan terus berputar sehingga, jika tidak ada pencipta pertama maka ia akan bertasalsul(bertalian tidak terhenti), dan ini mustahil dalam logika. Haruslah ada pengada pertama dan dia tidak diadakan sebab jika dia diadakan pasti yang mengadakannya itu butuh pengada lagi. Dan itu mumet." Lebih detail akbar berargumen "pengada pertama itulah yang disebut Tuhan, pencipta alam semesta dan ini namanya dalil kosmologi"

Mendengar argumen Akbar, joko cengengesan sembari meneguk kopinya dan sesekali nyeletuk "jika Tuhan memang menciptakan alam ini, apakah alam ini setelah diciptakan lalu ditinggalkan? Seperti pencipta jam ketika sudah menjadi jam maka dia akan terlepas dari penciptanya" pertanyaan kaum deisme, akbar bergumam dan sesekali tertawa".

Nanti malam ya kita lanjutkan, sekarang aku mau shalat dulu dan membantu ibu merapikan dagangannya. Akbar membuka telapak tangannya dan melepas senyuman lebar untuk joko. Dialog singkat itu terus terngiang di benak joko, dia dengan keras berpikir tentang Tuhan namun hasilnya tetap tidak membawakan hasil. Malah yang ada hanya kegelisahan dan kesombongan.

Malam pun tiba, akbar dan joko kembali bertemu ditempat yang sama, sebelum keduanya mulai berdialog, pak emet sedikit nyeletuk" kalian membicarakan Tuhan kok hebat betul, dia tidak bisa tergambarkan dan terdeskripsikan karna Tuhan itu unik dan tidak sama dengan sesuatu apapun. Sementara ilmu kalian tentang sesuatu pastilah itu juga 'sesuatu' jadi ilmu kalian tentang Tuhan itu tidak mewakili Tuhan itu sendiri." Mendengar argumen pak emet keduanya bengong, lalu akbar bertanya "jika Tuhan tidak bisa tergambar dan terdeskripsikan dengan apa Manusia bisa mengenalnya?".

Obrolan mereka semakin hidup dengan datangnya si lilis, wanita berkerudung panjang dengan lesung pipit yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik. "Ini bah pisang gorengnya" ujar lilis dengan nada yang halus kepada pak emet. Seketika itu suasana agak tenang dan sepi dan dengan cepat lilis menarik dirinya dari perkumpulan manusia aneh itu.

Lanjut pak emet "manusia bisa mengenal Tuhan dengan mengenal sifatnya, sifat inilah yang menjadi jembatan antara makhluk dan Tuhannya. Dalam rumus perkenalan, seseorang bisa mengenal orang lain jika antara subjek dan objek memiliki kesamaan. Manusia bisa saling mengenal karna ada kesamaan diantara mereka, sama berbicara, berpikir, melihat dan sebagainya. Begitupun Tuhan, dari sifatnya, Tuhan memiliki kesamaan dengan makhluk-sekalipun pendapat ini ditentang oleh kaum sunni, bagi mereka dzat dan sifat Tuhan keduanya berbeda dari yang  lain- Tuhan maha alim, manusia pun dititik terendahnya juga bersifat"mengetahui", Tuhan maha mendengar, melihat begitu juga manusia. Jadi, ada jembatan penghubung antara Tuhan dan mahluk melalui sifatnya. Sehingga, bagi siapapun manusia yang mengadopsi sifat-sifat Tuhan dia akan diliputi oleh sifat ketuhanan itu sehingga jadilah dia manusia yang paripurna.

Keduanya semakin penasaran, terutama si joko. Joko kemudian bertanya" lalu manusia sebetulnya diciptakan untuk apa"? Dia kan maha sempurna, kenapa masih menuntut disembah?
Pak emet mengambil seputung roko'nya yang belum habis dia hisap. Huuuh, dia mengepulkan asap roko'nya.

Lanjut pak emet" karna alasan manusialah alam ini diciptakan, dalam hadits kudsi Tuhan berucap"jika bukan karna engkau(Muhammad) tidak akan kuciptakan alam ini. Seperti tukang kebun menanam mangga. Manusia adalah buahnya dan pohon mangga adalah alam semesta. Sekalipun buah hadir belakangan tapi buah itulah yang menjadi alasan pekebun itu menanam mangga, bukan karna pohonnya. Begitulah Rummi mengibaratkan manusia dan alam. Tuhan memang tidak membutuhkan sembahan kita, semua perintah Tuhan itu untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Termasuk mengandi dan menyembah kepadanya.

Malam semakin larut, suara jangkrik menambah rasa penasaran joko dan akbar. Merek kemudian saling menatap, ada dialog rahasia diantara mata mereka. Sepertinya penasaran akbar dan joko belum lunas. Pak emet kemudian memberi keduanya sobekan kertas yang sudah dia tulis.
Isi tulisan itu tidak panjang, hanya satu kalimat saja
     "AKU ADALAH RAHASIA YANG TERSEMBUNYI"

Selasa, 22 Agustus 2017

Tangisan Burung



            Siapa sangka malam itu Ibu rohani mencincang habis sangkar burung yang tergantung rapi di atas plapon rumahnya. Pak Amat, nama suaminya adalah pecinta binatang, terutama burung, dia pernah mengoleksi hampir semua jenis burung. saking gemarnya kepada burung, dia lupa mengurusi burungnya sendiri. Memang, lebih baik memelihara burung daripada memelihara tikus dan kucing yang selalu membuat halaman rumah ribut tidak karuan.
            Namun tidak untuk ibu rohani, perempuan desa yang berambut keriting, berhidung pesek namun berwajah eropa. Dia merasakan ada keganjalan ketika burung-burung itu harus menekam dijeruji kayu yang dibuat sendiri oleh tangan suaminya. Tangan yang dia tahu hanya menjajakan kenikmatan ketika jari-jarinya mengelus tubuhnya, meremas dadanya bahkan sesekali menampar pantatnya. Jiwa wanita memang pengasih. katanya, wanita lebih dominan memakai hatinya dibanding logikanya. Tentu ini berbeda dengan lelaki, lebih dominan berlogika daripada berhati. “mungkin saja jika burung ini ku simpan dia akan langka karna populasinya semakin hari semakin kurang setelah itu, burung ini akan menjadi hewan antik dengan harga melangit dan disitulah kemudian aku bisa menjualnya dan bisa membeli emas untuk rohani”.ujar pak amat dalam logikanya.
            Sudahlah, harapan menjual burung itu pun harus rela dibuang jauh-jauh oleh pak amat, keinginan itu terbang bersama angin, dihujam oleh badai, diseret oleh banjir ketika burung-burung itu sudah menerima surat kemerdekaanya dari perbudakan. 25 ekor burung pak amat dengan jenis yang berbeda-beda mulai berharap menjemput kehidupan barunya, kehidupan bebas yang tidak lagi berurusan dengan air ketika pak amat menyemprotnya pagi-pagi. Atau bebas menyicipi makanan kapan saja tanpa harus ada aturan tiga kali sehari dengan air bermerek aqua yang ditaruh didalam kaleng kecil yang sebetulnya itu khusus untuk ayam.
            25 burung itu terbang melalui udara masing-masing, sesekali mereka saling lirik, berpuisi dengan bahasa masing-masing kadang-kadang diantara mereka ada yang bercinta diudara sambil mengibaskan sayapnya diantara awan-awan. “Kebebasan ada didepan mata, tinggal melewati hutan ini kita akan sampai ke pulau hijau, dimana burung-burung bebas menguasai udara, bebas bersiul, bebas berak, bebas menangis, bebas merintih dan bertasbih”. Bahasa burung hantu yang menjadi pemimpin rombongan
            Setelah melewati hutan itu, tak kunjung pula mereka dapati hutan impian yang tanahnya subur, pohon-pohonnya hidup, bunga-bunganya harum, udaranya sejuk bahkan mirisnya, kobaran asap pabrik yang menyelimuti udara hutan itu. Iya, hutan impian itu sudah berubah menjadi pabrik raksasa oleh tangan-tangan tengil manusia, mereka tidak punya hati, tidak bernyawa dan tidak berpikir. Mereka segerombolan mayat, zombie, kanibal yang rela memakan sahabatnya demi perut dan agar kontolnya tetap ngaceng.
            25 kawanan burung itu menangis, tidak ada yang bisa diharapkan dialam bebas ini lagi, semuanya sudah berubah menjadi neraka jahannam yang siap mencincang tubuh mereka. Mereka terbang tanpa arah, sesekali mereka mendarat dipepohonan untuk mencari makanan sayangnya, pepohonan sudah beracun, zat kimia sudah mendominasi tubuh mereka. sebagian mendarat dilaut dan danau, berniat mencari ikan tapi saying, ikan yang diharapkan sudah memilih membunuh dirinya sendiri ketimbang dibunuh oleh racun sampah yang berserakan.
            Benar-benar tidak ada tempat dialam bebas ini, mereka tersadar dipenjara disangkar pak amat jauh lebih nyaman dibanding harus bebas dan merdeka tapi lama-lama akan mati kelaparan. Disangkar hanya pisik yang dipenjara sementara di alam bebas ini pisik dan batin dipenjara secara tidak langsung. Pikirnya dengan cerdas. Mereka terbang, mengikuti jejak angin hampir lupa dimana rumah tuannya. Mereka terus terbang, sesampai dirumah tuannya, dilihat pula rumah itu sudah tidak ditempati oleh pak Amat, dia berubah menjadi perumahan elit, tanah pak amat dan sekitarnya dibeli dan dijadikan perumahan elit dengan selogan “Bumi Asri” .     

Sabtu, 19 Agustus 2017

Dibalik senyuman ada kesedihan dan kerinduan.




Senin, 23 juli pukul 06:00 saat matahari baru saja lahir, disambut dengan adzan yang dikumandangkan oleh ayam jantan yang sanggup memerkosa sepuluh ayam betina dalam jeda waktu satu jam per-ekor, seperti biasa, disamping rumah si budi, selalu saja terdengar suara tangisan bayi seolah-olah kejadian itu menjadi ritual kehidupan keluarga ibu rositah. Tangisan bayi itu berasal dari anak semata wayang  ibu rositah yang sudah berumur 2 tahun. Adul, iya, nama bocah itu si adul. Bocah tangguh yang kerap kali menyesali kelahirannya kebumi jika dia sudah cukup pandai memungsikan kekuatan otak dan nafsunya. Setiap mendengar tangisan si adul, budi selalu bergegas mendekatinya dan memandangi mata dan raut wajahnya dalam-dalam. Tuhan, apa salah bocah ini? Jika dia terlahir hanya untuk membuat keributan dengan tangisan nakalnya, kenapa kau tak cabut nyawanya sekarang juga sebelum dia berdosa dan kelak akan masuk nerakamu, “ujar budi dalam hatinya sambil terus menatap raut wakah anak itu”. Adul si bocah tangguh semenjak lahir sudah mengidap penyakit meningitis (infeksi selaput otak), tahukah anda, Meningitis merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia, tidak hanya dalam hal tingkat kematian, tetapi juga dalam kehidupan setelah pemulihan penuh juga. Infeksi yang fatal meliputi otak dan sumsum daerah tulang belakang. Bahkan, dengan diagnosis dini dan pengobatan yang dilakukan secara segera, 5 sampai 10 persen dari pasien yang mengalaminya tetap tidak tertolong. Sebanyak 10 sampai 20 persen pasien yang telah sembuh menderita gangguan pendengaran, kerusakan otak, atau ketidak mampuan belajar. Angka kematian : 174.000 jiwa setiap tahun, angka pantastis dan cukup menakutkan bagi sepasang keluarga yang baru menikah dan belum dikaruniai anak.

Meningitis memaksa ayah si adul harus banting tulang dan banting waktu mencari rupiah. Pak Rohmat, seorang pedagang asongan gelang, gangsing nyamplung, baju khas Lombok dan aneka karya seni sederhana yang tercipta dari tangan kreatifnya di pantai senggigi ini tidak pernah mengeluh dan menyesali keadaan anak semata wayangnya . Dia terus berusaha mencari jalan agar anaknya bisa bertahan hidup untuk hari ini. Mengais rizki di tanah pariwisata tentu tidak gampang, apalagi bekerja hanya sebagai penjual asongan kecil-kecilan. Monster kapitalis berjejer disepanjang bibir pantai senggigi, banyak toko megah dan mewah menjual barang yang sama seperti yang dijual oleh pak Rohmat. Namun Tuhan memang tidak pernah tidur, dia selalu melihat dan mendengar jeritan hambanya, barang pak Rohmat selalu ada peminatnya, tidak banyak, tapi cukup untuk menghidupi istri dan anak kesayangannya.

Ibu Rositah yang bekerja sebagai kuli cuci terpaksa memutuskan untuk berhenti, karena sudah dua bulan ini kondisi anaknya semakin memburuk. Jiwa ibu memang tidak bisa dideskripsikan, cintanya tulus tidak bersebab, kasih sayangnya mengalir bagai mata air, dia sanggup menahan azab sekalipun asalkan anaknya tetap tersenyum. Melihat kondisi keluarga pak Rohmat yang suram, seakan-akan tidak ada kebahagiaan didalamnya, yang ada hanya tangis, keringat, susah dan gelisah. Budi selalu menyempatkan diri untuk menghibur si Adul, terkadang, dia berusaha menghiburnya dengan berpura-pura menjadi badut. Padahal, budi selama ini terkenal sebagai pemuda pendiam, anak kamaran yang menghabiskan waktunya bersetubuh dengan buku-buku dan sesekali menonton film anime. Memang, amarah, kasih dan cinta bisa mengobrak-abrik jiwa seseorang untuk keluar dan melawan. Layaknya Rumi sang maestro cinta yang merelakan tubuh dan jiwanya hanya untuk yang terkasih. Cintanya tidak berujung dan tidak terukur, tidak bersebab dan tidak mengeluh, cinta abadi yang membawanya tenggelam dan menari ditaman cinta. Rumi memang symbol hidup dari cinta. Dan budi, karena keseringan membaca bait-bait syair rumi yang termaktub dalam karya monumentalnya “masnawi” mencoba untuk menjadi Rumi abad modern ini. Budi selalu tampil sebagai pencerah dihadapan si Adul, sesekali, bocah itu menunjukan gigi mungilnya dengan raut wajah sedikit bahagia, tetap saja penderitaannya menjadi tembok raksasa dia tertawa bebas seperti bocah lainnya.

Semua berjalan seperti biasa, alunan lagu melau selalu memperkosa gendang telinga budi, saat malam hari, saat manusia menjalin asmara didunia mimpi, saat pemberontak mengatur strategi untuk membobol suatu benteng, saat pasangan suami istri mendesah mesra bersama, saat itu, budi menyungkurkan kepalanya, mencium tanah dan memohon kepada sang pencipta alam semesta dengan seluruh keindahan yang ada padanya. Permohonannya tidak banyak, dia selalu berharap agar Tuhan mengasihi dirinya, orang tua, keluarga dan mengasihi si Adul. Budi selalu percaya bahwa Tuhan telah mengatur ketetapannya dengan pertimbangan yang sangat matang. Terkadang apa yang kita anggap tidak baik sebetulnya itulah yang terbaik untuk kita,

Hmmm, pagi menyapa lagi, kali ini bunyi adzan ayam tidak garang seperti biasanya, mataharipun masih berselimut diketinggian singgasananya. Awan gelap memenuhi angkasa, pagi yang suram “ujarnya penuh kekesalan” karna rencananya untuk pergi mengkonsultasikan skripsi harus ditunda oleh hujan yang baru saja menyapa rerumputan kering dibumi. Alam memang sulit ditebak, sesulit menebak gadis atau janda di dunia modern ini, sesulit memastikan akhir yang bahagia bagi para sarjana dan sesulit mempilter kelebaiyan yang sudah menjamur dikalangan pemuda. Budi mengambil bungkus rokok yang dari semalam tidak habis, dia kemudian berjalan kedapur dan membuat segelas kopi hitam.

Huuuuh, adakah hidup yang lebih nikmat dari menikmati kopi dan mengepulkan asap
Dia bebas, tanpa beban skripsi, tanpa beban tangisan nakal si Adul. Tiba-tiba memori ingatannya berputar pada raut wajah anak itu, dia heran, kenapa si Adul pagi ini tidak nangis seperti biasa. “Aaah mungkin saja kondisinya sudah membaik “ ujarnya penuh keyakinan. Budi menikmati serut demi serut kopinya, kepulan demi kepulan asapnya memenuhi udara ruang tamunya. Tidak lupa, dia memutar lagu efek rumah kaca, paying teduh dan sesekali mendengar lirik lagu belah duren dan cinta satu malam. Lama sudah, setengah gelas kopi sudah menjadi isi perutnya dan akan menjadi kencingnya, setengah bungkus batang rokok sudah sangat berdampak bagi kesehatannya. Tiba-tiba, dari luar terdengar suara wanita teriak “tidaaaaak” , sontak budi berlari, membanting pintu dan melihat ibu rositah sudah dijaga oleh beberapa masyarakat. Budi mendesah, apakah awan hitam dan hujan ini member isyarat kabar buruk bagi keluarga si Adul dan kabar baik baginya karna dia tidak akan menahan lagi rasa sakit yang bersumber dari otaknya, Tuhan akan menjadikannya pelayannya, dalam bahasa agama, bagi anak kecil yang meninggal dunia, Tuhan akan menjadikannya pelayan surga.

Iya, benar sekali, setelah budi mendekati kediaman pak Rohmat, ternyata si Adul sudah tersenyum manis, dia tidak lagi muram, bidadari dan malaikat telah menyambutnya disana. Namun, dibumi bercerita lain, orang tuanya sudah teramat menyayanginya, begitu juga dengan si budi. Terasa semuanya sudah diatur oleh Tuhan, dan pasti itu semua hanya sebuah sekenario Tuhan untuk melatih hamba-hamba pilihannya. Adul sudah tiada, namun tangisan keluarga masih mengiringi gelap pagi itu, sedangkan budi sesekali tersenyum lebar karna meyakini bahwa kehidupan si Adul jauh lebih nyaman sekarang disbanding dengan kehidupannya. Disisi lain, dia juga bersedih karna tidak akan ada lagi tangisan, tidak akan ada lagi badut, gigi kecil mungil dan cerita ganasnya penyakit meningitis.