Selamat wisuda ya co, didi menepuk
pundakku, tangannya kurasa lebih halus dari sutra dan lebih harum dari kasturi.
Gadis yang ku kenal saat berkuliah di universitas gajah mada itu memang senang
memberi kejutan. Aku ingin mengabadikan ini semua dalam museum hatiku.
Tepukannya itu kurasa menjadi alasan tuhan untuk mempertahankan hidupku yang
tidak berguna ini sampai sekarang.
“kamu mau kemana setelah ini”
“entahlah, aku mau mencari cincin di
film Dan, kau masih ingat film itu”?
“iya, kau lucu, untuk apa usahamu
itu?”
“aku ingin hilang, agar membututimu
setiap saat”
Suara bel mobil tiba-tiba terdengar,
aku benci suara itu, dia mengganggu dialog abadiku. Didi melambaikan tangan
kirinya, sementara yang kanan membuka pintu mobil. Sedikit demi sedikit tubuhnya
dimakan oleh mobil avanza itu. Aaah, kurasa dia juga pasti merindukanku,
merindukan setiap detik yang kita lompati berdua, merindukan angin yang kita
bingkai menjadi boneka, merindukan pelangi yang kita cipta dari air liur berdua
dan merindukan diri keduanya yang bersemayam didadaku.
Setelah hari bahagia itu, aku rasa
kebahagiaan itu hal yang langka. Bagi mahasiswa yang baru lulus, wisuda adalah
gerbang kebahagiaan abadi tapi bagiku itu hanya seremonial belaka. Setelah
wisuda pun kita masih saja merindu, menangis, mengeluh dan sesekali menghujat.
Wisuda hanya cara penguasa membudidayakan kita dan sialnya, aku juga
terperangkap.
Bahagia memang langka, terlebih satu
bulan ini didi tidak mengirim pesan kepadaku. Aku pikir dia sibuk membantu
ibunya memasak. Setinggi-tinggi apapun pendidikan wanita di Indonesia, kecerdasan
mereka diukur dari masakannya. Didi itu pintar sekali meracik makanan, dia bisa
membuat pelecing rasa coklat, soto rasa es krim dan itu masakan paling gila
yang pernah kucicipi.
Ku isi hari-hari sepi itu dengan
melamun, memandangi foto cantiknya yang sengaja kupajang pada dinding kamarku.
Aku rasa kamu gadis bodoh dan pemberani, meninggalkan lelaki yang sanggup
membawamu terbang menemui bintang, melamun berdua di teras bulan, dan sesekali
menyelinap di sayap jibril meminta wahyu keabadian cinta kita. Ya, kurasa kamu gadis pemberani dan juga
bodoh. Aku terus menenangkan diri dengan mengumpat dan memuji fotonya. Belum
juga pesan dari didi berbaris didinding hp ku. Sudah hampir dua bulan ini,
masih sepi, hanya foto itu yang sanggup menghibur dan mematikan tawaku. Aku
rasa dengan menyebut-nyebut namanya sebelum tidur akan menjadi azimat dia
mendatangiku.
Aku mendengar dentak jantungnya
dibalik jendelaku, ku temui dia dan kutanya, “dimana pemilikmu?” Jantung itu
meleleh dalam tangisan, merunduk dan mengendus kakiku. Aku angkat dia dan
kuciumi lekat-lekat. “Dimana pemilikmu?” Ku Tanya lagi dia dengan nada yang
agak sedih. Dia meleleh bagai es dibakar api, aku berusaha mengekalkannya tapi
suara ocehan ibu lebih keras dan membuatku terbangun dari tidur. Siaal, itu
hanya mimpi. Tapi bukankah mimpi terkadang juga bisa menjadi isyarat? “gumamku
dalam hati”, yusuf bisa menjadi penguasa mesir karna kecerdasannya menerka
mimpi bahkan semua nabi-nabi itu diberikan wahyu salah satunya melalui mimpi.
Aku terdiam sejenak sambil menunggu nyawaku sempurna memasuki jasadku. Aku
kembali memandangi foto itu, kulihat dia tambah cantik pagi ini.
Jasadku sudah kembali bugar tapi
tidak hatiku, dia mengambang diantara galaksi, dibawa arus air seperti
ubur-ubur, dia tidak tenang, dia bergelombang dan berteriak mencari serpihannya
yang hilang. Hatiku memang telah lama bersatu dengan hatinya, dia memberontak
jika berusaha dipisahkan seperti saat ini. Aku terus menunggu pesannya,
beberapa kali kubolak balik hp tetap saja pesannya belum kunjung datang. Waktu
berputar tanpa kompromi, dia melibas semua mimpi dan mencipta danau kenangan. Aku
melihat cahaya matahari banci sekali, dia gagal menerangi gelapnya relung
hatiku, aku benci matahari dan lekas masuk kamar, ku tutup semua jendela dan
lubang yang bisa membawa sinar. Gelap, betul-betul gelap. Aku lebih nyaman
gelap begini, imajinasiku dengan mudah terbang menemui didi membawanya kealam
setan. Kadang-kadang, aku sering memerkosanya dialam itu.
Sudah memasuki dua bulan ini dia
belum juga mengirim kabar, badanku sudah tak ku urusi, dia betul-betul rusak
dan lusuh. Jarang disentuh air, korengan dan kutil membangun istana megah
disetiap jengkal kulitku. Aku terus terpuruk, batinku remuk tapi cintaku
padanya tidak pernah kubiarkan lusuh seperti badanku. Setiap detik ku melamuni
wajahnya setiap itu pula kujatuh cinta. Sesekali, aku menitip kerinduan lewat
angin kentutku, kentut itu kuanggap kawan terjujur, dia selalu menyampaikan
pesan apa adanya. Dia tidak pernah ingin menjadi wangi, dia apa adanya, persis
seperti kerinduanku yang tidak menuntut apa-apa kecuali menemui dan melihat
senyumannya.
Pintu rumahku berbunyi, aku rasa itu
tamu ayahku yang sibuk berbisnis jamur tiram. Dugaanku salah, saat ku buka
pintu itu, ternyata hanya tukang pos yang memberikanku sebuah kado. Aku heran
betul, kurasa hari ini bukan ulang tahunku, bukan pula hari jadian ayah dan
ibuku. Aaah, kuambil saja, biar nanti didalam kulihat isinya. Ku buka isi kado
itu ternyata isinya buku “sejarah yang disembunyikan” karya jonatan black. Aku
semakin heran, buku ini telah lama ingin ku miliki dan hanya didi yang tau
keinginanku itu. Ku buka isinya, dihalaman pertama ada kertas kecil semisal
amplop surat. Ku tutup buku itu dan ku ambil amplop itu lalu ku baca isinya.
Untukmu
lelakiku,
aku ingat cita-citamu yang ingin
mencari cincin ajaib itu, katamu” cincin itu bisa membuat aku hilang” kamu
memang lucu dan bodoh co, sebab itu aku jatuh hati padamu. Selama dua bulan ini
kamu tidak sadar ya? Aku hilang karna sudah menemukan cincin itu hahaha kamu
pasti tersenyum membaca ini , bodoh. Selama dua bulan ini aku membututimu, aku
tahu kerinduanmu, aku tahu kesedihanmu, kesepianmu, kesendirianmu, ketidak
berdayaanmu, kemirisanmu dan kedalaman cintamu. Aku tulis semua itu dalam dua
kata “ kita sama”. Aku juga merindukan semua yang ada pada dirimu.
From
: Didi
Senyumku
mulai mengembang setelah membaca tulisan itu. Dia memang benar-benar gadis
bodoh dan suka membuat kejutan. Ku lepas amplop itu dan kulanjutkan membaca
buku jonatan black. Dihalaman ketiga, ketika buku itu menyinggung tentang
sejarah gerakan mistik bawah tanah, ku jumpai amplop yang sama seperti
dihalaman pertama. Aku tersenyum “dasar bodoh, kejutan apalagi ini” ucapku
dengan mimik muka sedikit senang dan penasaran. Ku buka amplop itu dan ku baca
isinya.
Untukmu lelaki impian
Jika kamu ingin menghilang untuk
membututiku, maka aku ingin kau membututiku sampai gerbang rumah saja atau
sampai pintu masjid. Aku tidak ingin melihat keributan jika kau memasuki rumah
dan masjid, “kau orangnya kan rusuh hee”. Kamu lebih percaya cinta atau takdir?
Tentu kamu harus memilih salah satunya. Saat bersamamu, aku meyakini cinta
diatas segalanya, cintamu yang membuatku lupa akan diriku, cintamu yang
membuatku meyakini keindahan masa depan, cintamu yang membuatku terbius dalam
kenikmatan berdua.
Lelaki impianku,
Cintamu yang tidak terukur itu
ternyata tidak bisa merubah ketetapan sang maha pencipta, Tuhan. Aku tidak
mengerti mengapa dia menumbuhkan buih cinta pada hati kita berdua namun disaat
yang sama Tuhan pula tengah membangun tembok raksasa untuk jasad kita. Selama
dua bulan ini, aku menghabiskan waktu murung dikamar, saat ku dengar seorang
lelaki telah menemui ayah dan ibu untuk melamarku. Mereka berdua setuju dengan
alasan yang sulit ku lawan. Lelaki itu baru saja menyelesaikan study s1-nya di
universitas al-azhar mesir. Ku rasa semua orang tua ingin yang terbaik untuk
anaknya, aku tidak ingin menyalahkan mereka. Aku merenung, sesekali ku coba
meyakini ayah akan lelaki pilihanku –kamu- namun hasilnya tidak kunjung membuat
ayah seyakin ketika melihat pemuda itu. Aku seperti berada dalam gua yang
gelap, didepanku ada jurang dan jembatan kecil. Aku tidak bisa memutuskan
berjalan jika tanpa ada cahaya. Menunggu cahaya digua yang gelap kurasa tidak
mungkin kecuali matahari bisa memasuki gua itu sayangnya, dia teramat dalam dan
gelap. Aku ingat, saat cahaya sukar dicari masih ada mata batin yang siap
menuntun kaki kita untuk berjalan. Namun aku masih saja bingung, bagaimana cara
mengoprasikan mata batin ini. aku lalu mengingat nasihatmu ketika kita
menghabiskan waktu ditaman itu. Kamu pernah ngomong gini “jika dalam
kebingungan menentukan pilihan maka usahakan shalat istihoroh, jika kamu tidak
PD dengan shalat istihorohmu maka mintalah pendapat pada ibumu, bagiku ibu adalah
wujud hidup dari shalat istihoroh itu” aku mengambil jalan kedua itu. Aku
tanya ibu tentang lelaki itu dan dirimu
ternyata ibu menyarankanku untuk menerima pinangan lelaki itu. Ooh iya, namanya
mas Agus. aku ingin kamu mengerti dan menerima jalan takdir kisah ini co.
From : didi
isi surat itu membuat bibirku kering, dan jantungku
berdetak kencang sekali seakan dia akan keluar dari tubuhku. Semuanya terlihat
gelap. Kusobek surat itu dengan kekecewaan dan kebencian. Hidupku terasa di
neraka, kobaran api menyala-nyala membakar semua tubuhku. Yang ada hanya rasa
“kecewa”. Seharian ku tutup wajahku dengan selimut putih yang dulu pernah didi
berikan. Aku terenyuh memohon agar Tuhan membalik takdir itu dalam waktu
sesingkat-singkatnya. Malam itu aku tidur membawa kekecewaan dan dendam penghianatan.
Waktu terus berjalan tanpa kompromi,
dia melibas semua dan menciptakan danau kenangan. Tiba-tiba, teriakan ayam
membuatku terbangun, ku tutup rapat lagi mataku, aku tidak ingin melihat
dunia,. Kurasa berpura-pura mati atau mati beneran jauh lebih berharga
dibanding hidup menerima kenyataan didi tidak berjalan bersamaku. Alam sadarku
mulai tidak terkontrol, emosi meninggi karna kekecewaan yang menimpa diri. Ku
berusaha mencabut nyawaku sendiri dengan meneguk baygon yang bersandar rapi
dimeja kamar. Seteguk baygon itu sudah masuk ke leherku, otak ku tiba-tiba
pusing dan penglihatanku buyar dan pudar. Duaaar dan sepi. Tidak ku sadar
tubuhku sudah lemas dan tidak berdaya. yang ku ingat hanya kekecewaan dan
penghianatan. Ayah dan ibu menceritakan keadaanku setelah mereka melarikanku
kerumah sakit. Satu jam lebih mereka menungguku siuman dan kemudian
menanyakanku alasan semua ini. Aku terkejut, kenapa aku tidak mati saja, dan
saat itu memang aku ingin sekali mati tapi takdir berkata lain.
Aku merenungi takdir itu
dalam-dalam. Antara racun itu terlalu sedikit kuminum sehingga tidak membuatku
mati atau itu memang takdir? Aku terus bertanya pada diriku sendiri. Jika
takdir yang masih memberikanku hidup sampai detik ini, apakah takdir juga yang
membuat didi harus pergi? Perlahan aku mulai sadar dan mengerti bahwa cinta
tidak bisa berbahasa apa-apa dihadapan takdir namun disisi lain, takdir itu ada
dilandasi oleh cinta Tuhan kepada makhluknya. Kesimpulannya, cinta tanpa disanding
dengan memohon kepada yang menciptakan takdir itu akan berakhir dengan tragis,
dan memohon takdir tanpa dilandasi cinta hasilnya akan tragis pula.
Sepulang dari rumah sakit itu, aku
insaf betul bahwa bukan cinta yang berkuasa tapi yang menciptakan cinta itu
sendiri dengan takdir yang telah dia tetapkan. Jika dia, yang maha cinta itu
sudah berkata A maka, kejadian A pun akan terjadi. Termasuk kandasnya cinta si
laila dan majnun, romeo dan Juliet, kabayan dan siti nurbaya, dan kisah
cintaku. Aku berharap agar semua pecinta tidak melupakan yang menciptakan cinta
dan takdir itu. Hanya Dia-lah yang patut untuk disambangi, dzat yang paling
sempurna tempat mengeluh dan meminta. Dia-lah cinta sejati, yang mampu
berbahasa berbeda dalam satu keadaan, wujudnya tersembunyi namun sangat Nampak.
Dialah rahasia yang tersembunyi itu.




