Senin,
23 juli pukul 06:00 saat matahari baru saja lahir, disambut dengan adzan yang
dikumandangkan oleh ayam jantan yang sanggup memerkosa sepuluh ayam betina dalam
jeda waktu satu jam per-ekor, seperti biasa, disamping rumah si budi, selalu
saja terdengar suara tangisan bayi seolah-olah kejadian itu menjadi ritual
kehidupan keluarga ibu rositah. Tangisan bayi itu berasal dari anak semata
wayang ibu rositah yang sudah berumur 2
tahun. Adul, iya, nama bocah itu si adul. Bocah tangguh yang kerap kali
menyesali kelahirannya kebumi jika dia sudah cukup pandai memungsikan kekuatan
otak dan nafsunya. Setiap mendengar tangisan si adul, budi selalu bergegas
mendekatinya dan memandangi mata dan raut wajahnya dalam-dalam. Tuhan, apa
salah bocah ini? Jika dia terlahir hanya untuk membuat keributan dengan
tangisan nakalnya, kenapa kau tak cabut nyawanya sekarang juga sebelum dia
berdosa dan kelak akan masuk nerakamu, “ujar budi dalam hatinya sambil terus
menatap raut wakah anak itu”. Adul si bocah tangguh semenjak lahir sudah
mengidap penyakit meningitis (infeksi selaput otak), tahukah anda, Meningitis
merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia, tidak hanya dalam hal
tingkat kematian, tetapi juga dalam kehidupan setelah pemulihan penuh juga.
Infeksi yang fatal meliputi otak dan sumsum daerah tulang belakang. Bahkan,
dengan diagnosis dini dan pengobatan yang dilakukan secara segera, 5 sampai 10
persen dari pasien yang mengalaminya tetap tidak tertolong. Sebanyak 10 sampai
20 persen pasien yang telah sembuh menderita gangguan pendengaran, kerusakan
otak, atau ketidak mampuan belajar. Angka kematian : 174.000 jiwa setiap tahun,
angka pantastis dan cukup menakutkan bagi sepasang keluarga yang baru menikah
dan belum dikaruniai anak.
Meningitis
memaksa ayah si adul harus banting tulang dan banting waktu mencari rupiah. Pak
Rohmat, seorang pedagang asongan gelang, gangsing nyamplung, baju khas Lombok dan
aneka karya seni sederhana yang tercipta dari tangan kreatifnya di pantai
senggigi ini tidak pernah mengeluh dan menyesali keadaan anak semata wayangnya .
Dia terus berusaha mencari jalan agar anaknya bisa bertahan hidup untuk hari
ini. Mengais rizki di tanah pariwisata tentu tidak gampang, apalagi bekerja
hanya sebagai penjual asongan kecil-kecilan. Monster kapitalis berjejer
disepanjang bibir pantai senggigi, banyak toko megah dan mewah menjual barang
yang sama seperti yang dijual oleh pak Rohmat. Namun Tuhan memang tidak pernah
tidur, dia selalu melihat dan mendengar jeritan hambanya, barang pak Rohmat
selalu ada peminatnya, tidak banyak, tapi cukup untuk menghidupi istri dan anak
kesayangannya.
Ibu
Rositah yang bekerja sebagai kuli cuci terpaksa memutuskan untuk berhenti,
karena sudah dua bulan ini kondisi anaknya semakin memburuk. Jiwa ibu memang
tidak bisa dideskripsikan, cintanya tulus tidak bersebab, kasih sayangnya
mengalir bagai mata air, dia sanggup menahan azab sekalipun asalkan anaknya
tetap tersenyum. Melihat kondisi keluarga pak Rohmat yang suram, seakan-akan
tidak ada kebahagiaan didalamnya, yang ada hanya tangis, keringat, susah dan
gelisah. Budi selalu menyempatkan diri untuk menghibur si Adul, terkadang, dia
berusaha menghiburnya dengan berpura-pura menjadi badut. Padahal, budi selama
ini terkenal sebagai pemuda pendiam, anak kamaran yang menghabiskan waktunya
bersetubuh dengan buku-buku dan sesekali menonton film anime. Memang, amarah, kasih
dan cinta bisa mengobrak-abrik jiwa seseorang untuk keluar dan melawan. Layaknya
Rumi sang maestro cinta yang merelakan tubuh dan jiwanya hanya untuk yang
terkasih. Cintanya tidak berujung dan tidak terukur, tidak bersebab dan tidak
mengeluh, cinta abadi yang membawanya tenggelam dan menari ditaman cinta. Rumi memang
symbol hidup dari cinta. Dan budi, karena keseringan membaca bait-bait syair
rumi yang termaktub dalam karya monumentalnya “masnawi” mencoba untuk menjadi
Rumi abad modern ini. Budi selalu tampil sebagai pencerah dihadapan si Adul,
sesekali, bocah itu menunjukan gigi mungilnya dengan raut wajah sedikit
bahagia, tetap saja penderitaannya menjadi tembok raksasa dia tertawa bebas
seperti bocah lainnya.
Semua
berjalan seperti biasa, alunan lagu melau selalu memperkosa gendang telinga
budi, saat malam hari, saat manusia menjalin asmara didunia mimpi, saat
pemberontak mengatur strategi untuk membobol suatu benteng, saat pasangan suami
istri mendesah mesra bersama, saat itu, budi menyungkurkan kepalanya, mencium
tanah dan memohon kepada sang pencipta alam semesta dengan seluruh keindahan
yang ada padanya. Permohonannya tidak banyak, dia selalu berharap agar Tuhan
mengasihi dirinya, orang tua, keluarga dan mengasihi si Adul. Budi selalu
percaya bahwa Tuhan telah mengatur ketetapannya dengan pertimbangan yang sangat
matang. Terkadang apa yang kita anggap tidak baik sebetulnya itulah yang
terbaik untuk kita,
Hmmm,
pagi menyapa lagi, kali ini bunyi adzan ayam tidak garang seperti biasanya,
mataharipun masih berselimut diketinggian singgasananya. Awan gelap memenuhi
angkasa, pagi yang suram “ujarnya penuh kekesalan” karna rencananya untuk pergi
mengkonsultasikan skripsi harus ditunda oleh hujan yang baru saja menyapa
rerumputan kering dibumi. Alam memang sulit ditebak, sesulit menebak gadis atau
janda di dunia modern ini, sesulit memastikan akhir yang bahagia bagi para
sarjana dan sesulit mempilter kelebaiyan yang sudah menjamur dikalangan pemuda.
Budi mengambil bungkus rokok yang dari semalam tidak habis, dia kemudian
berjalan kedapur dan membuat segelas kopi hitam.
Huuuuh, adakah hidup yang lebih
nikmat dari menikmati kopi dan mengepulkan asap
Dia
bebas, tanpa beban skripsi, tanpa beban tangisan nakal si Adul. Tiba-tiba
memori ingatannya berputar pada raut wajah anak itu, dia heran, kenapa si Adul
pagi ini tidak nangis seperti biasa. “Aaah
mungkin saja kondisinya sudah membaik “ ujarnya penuh keyakinan. Budi menikmati
serut demi serut kopinya, kepulan demi kepulan asapnya memenuhi udara ruang
tamunya. Tidak lupa, dia memutar lagu efek rumah kaca, paying teduh dan
sesekali mendengar lirik lagu belah duren dan cinta satu malam. Lama sudah,
setengah gelas kopi sudah menjadi isi perutnya dan akan menjadi kencingnya,
setengah bungkus batang rokok sudah sangat berdampak bagi kesehatannya. Tiba-tiba,
dari luar terdengar suara wanita teriak “tidaaaaak”
, sontak budi berlari, membanting pintu dan melihat ibu rositah sudah dijaga
oleh beberapa masyarakat. Budi mendesah, apakah awan hitam dan hujan ini member
isyarat kabar buruk bagi keluarga si Adul dan kabar baik baginya karna dia
tidak akan menahan lagi rasa sakit yang bersumber dari otaknya, Tuhan akan
menjadikannya pelayannya, dalam bahasa agama, bagi anak kecil yang meninggal
dunia, Tuhan akan menjadikannya pelayan surga.
Iya,
benar sekali, setelah budi mendekati kediaman pak Rohmat, ternyata si Adul
sudah tersenyum manis, dia tidak lagi muram, bidadari dan malaikat telah
menyambutnya disana. Namun, dibumi bercerita lain, orang tuanya sudah teramat
menyayanginya, begitu juga dengan si budi. Terasa semuanya sudah diatur oleh
Tuhan, dan pasti itu semua hanya sebuah sekenario Tuhan untuk melatih
hamba-hamba pilihannya. Adul sudah tiada, namun tangisan keluarga masih
mengiringi gelap pagi itu, sedangkan budi sesekali tersenyum lebar karna
meyakini bahwa kehidupan si Adul jauh lebih nyaman sekarang disbanding dengan
kehidupannya. Disisi lain, dia juga bersedih karna tidak akan ada lagi
tangisan, tidak akan ada lagi badut, gigi kecil mungil dan cerita ganasnya
penyakit meningitis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar