Sabtu, 19 Agustus 2017

Dibalik senyuman ada kesedihan dan kerinduan.




Senin, 23 juli pukul 06:00 saat matahari baru saja lahir, disambut dengan adzan yang dikumandangkan oleh ayam jantan yang sanggup memerkosa sepuluh ayam betina dalam jeda waktu satu jam per-ekor, seperti biasa, disamping rumah si budi, selalu saja terdengar suara tangisan bayi seolah-olah kejadian itu menjadi ritual kehidupan keluarga ibu rositah. Tangisan bayi itu berasal dari anak semata wayang  ibu rositah yang sudah berumur 2 tahun. Adul, iya, nama bocah itu si adul. Bocah tangguh yang kerap kali menyesali kelahirannya kebumi jika dia sudah cukup pandai memungsikan kekuatan otak dan nafsunya. Setiap mendengar tangisan si adul, budi selalu bergegas mendekatinya dan memandangi mata dan raut wajahnya dalam-dalam. Tuhan, apa salah bocah ini? Jika dia terlahir hanya untuk membuat keributan dengan tangisan nakalnya, kenapa kau tak cabut nyawanya sekarang juga sebelum dia berdosa dan kelak akan masuk nerakamu, “ujar budi dalam hatinya sambil terus menatap raut wakah anak itu”. Adul si bocah tangguh semenjak lahir sudah mengidap penyakit meningitis (infeksi selaput otak), tahukah anda, Meningitis merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia, tidak hanya dalam hal tingkat kematian, tetapi juga dalam kehidupan setelah pemulihan penuh juga. Infeksi yang fatal meliputi otak dan sumsum daerah tulang belakang. Bahkan, dengan diagnosis dini dan pengobatan yang dilakukan secara segera, 5 sampai 10 persen dari pasien yang mengalaminya tetap tidak tertolong. Sebanyak 10 sampai 20 persen pasien yang telah sembuh menderita gangguan pendengaran, kerusakan otak, atau ketidak mampuan belajar. Angka kematian : 174.000 jiwa setiap tahun, angka pantastis dan cukup menakutkan bagi sepasang keluarga yang baru menikah dan belum dikaruniai anak.

Meningitis memaksa ayah si adul harus banting tulang dan banting waktu mencari rupiah. Pak Rohmat, seorang pedagang asongan gelang, gangsing nyamplung, baju khas Lombok dan aneka karya seni sederhana yang tercipta dari tangan kreatifnya di pantai senggigi ini tidak pernah mengeluh dan menyesali keadaan anak semata wayangnya . Dia terus berusaha mencari jalan agar anaknya bisa bertahan hidup untuk hari ini. Mengais rizki di tanah pariwisata tentu tidak gampang, apalagi bekerja hanya sebagai penjual asongan kecil-kecilan. Monster kapitalis berjejer disepanjang bibir pantai senggigi, banyak toko megah dan mewah menjual barang yang sama seperti yang dijual oleh pak Rohmat. Namun Tuhan memang tidak pernah tidur, dia selalu melihat dan mendengar jeritan hambanya, barang pak Rohmat selalu ada peminatnya, tidak banyak, tapi cukup untuk menghidupi istri dan anak kesayangannya.

Ibu Rositah yang bekerja sebagai kuli cuci terpaksa memutuskan untuk berhenti, karena sudah dua bulan ini kondisi anaknya semakin memburuk. Jiwa ibu memang tidak bisa dideskripsikan, cintanya tulus tidak bersebab, kasih sayangnya mengalir bagai mata air, dia sanggup menahan azab sekalipun asalkan anaknya tetap tersenyum. Melihat kondisi keluarga pak Rohmat yang suram, seakan-akan tidak ada kebahagiaan didalamnya, yang ada hanya tangis, keringat, susah dan gelisah. Budi selalu menyempatkan diri untuk menghibur si Adul, terkadang, dia berusaha menghiburnya dengan berpura-pura menjadi badut. Padahal, budi selama ini terkenal sebagai pemuda pendiam, anak kamaran yang menghabiskan waktunya bersetubuh dengan buku-buku dan sesekali menonton film anime. Memang, amarah, kasih dan cinta bisa mengobrak-abrik jiwa seseorang untuk keluar dan melawan. Layaknya Rumi sang maestro cinta yang merelakan tubuh dan jiwanya hanya untuk yang terkasih. Cintanya tidak berujung dan tidak terukur, tidak bersebab dan tidak mengeluh, cinta abadi yang membawanya tenggelam dan menari ditaman cinta. Rumi memang symbol hidup dari cinta. Dan budi, karena keseringan membaca bait-bait syair rumi yang termaktub dalam karya monumentalnya “masnawi” mencoba untuk menjadi Rumi abad modern ini. Budi selalu tampil sebagai pencerah dihadapan si Adul, sesekali, bocah itu menunjukan gigi mungilnya dengan raut wajah sedikit bahagia, tetap saja penderitaannya menjadi tembok raksasa dia tertawa bebas seperti bocah lainnya.

Semua berjalan seperti biasa, alunan lagu melau selalu memperkosa gendang telinga budi, saat malam hari, saat manusia menjalin asmara didunia mimpi, saat pemberontak mengatur strategi untuk membobol suatu benteng, saat pasangan suami istri mendesah mesra bersama, saat itu, budi menyungkurkan kepalanya, mencium tanah dan memohon kepada sang pencipta alam semesta dengan seluruh keindahan yang ada padanya. Permohonannya tidak banyak, dia selalu berharap agar Tuhan mengasihi dirinya, orang tua, keluarga dan mengasihi si Adul. Budi selalu percaya bahwa Tuhan telah mengatur ketetapannya dengan pertimbangan yang sangat matang. Terkadang apa yang kita anggap tidak baik sebetulnya itulah yang terbaik untuk kita,

Hmmm, pagi menyapa lagi, kali ini bunyi adzan ayam tidak garang seperti biasanya, mataharipun masih berselimut diketinggian singgasananya. Awan gelap memenuhi angkasa, pagi yang suram “ujarnya penuh kekesalan” karna rencananya untuk pergi mengkonsultasikan skripsi harus ditunda oleh hujan yang baru saja menyapa rerumputan kering dibumi. Alam memang sulit ditebak, sesulit menebak gadis atau janda di dunia modern ini, sesulit memastikan akhir yang bahagia bagi para sarjana dan sesulit mempilter kelebaiyan yang sudah menjamur dikalangan pemuda. Budi mengambil bungkus rokok yang dari semalam tidak habis, dia kemudian berjalan kedapur dan membuat segelas kopi hitam.

Huuuuh, adakah hidup yang lebih nikmat dari menikmati kopi dan mengepulkan asap
Dia bebas, tanpa beban skripsi, tanpa beban tangisan nakal si Adul. Tiba-tiba memori ingatannya berputar pada raut wajah anak itu, dia heran, kenapa si Adul pagi ini tidak nangis seperti biasa. “Aaah mungkin saja kondisinya sudah membaik “ ujarnya penuh keyakinan. Budi menikmati serut demi serut kopinya, kepulan demi kepulan asapnya memenuhi udara ruang tamunya. Tidak lupa, dia memutar lagu efek rumah kaca, paying teduh dan sesekali mendengar lirik lagu belah duren dan cinta satu malam. Lama sudah, setengah gelas kopi sudah menjadi isi perutnya dan akan menjadi kencingnya, setengah bungkus batang rokok sudah sangat berdampak bagi kesehatannya. Tiba-tiba, dari luar terdengar suara wanita teriak “tidaaaaak” , sontak budi berlari, membanting pintu dan melihat ibu rositah sudah dijaga oleh beberapa masyarakat. Budi mendesah, apakah awan hitam dan hujan ini member isyarat kabar buruk bagi keluarga si Adul dan kabar baik baginya karna dia tidak akan menahan lagi rasa sakit yang bersumber dari otaknya, Tuhan akan menjadikannya pelayannya, dalam bahasa agama, bagi anak kecil yang meninggal dunia, Tuhan akan menjadikannya pelayan surga.

Iya, benar sekali, setelah budi mendekati kediaman pak Rohmat, ternyata si Adul sudah tersenyum manis, dia tidak lagi muram, bidadari dan malaikat telah menyambutnya disana. Namun, dibumi bercerita lain, orang tuanya sudah teramat menyayanginya, begitu juga dengan si budi. Terasa semuanya sudah diatur oleh Tuhan, dan pasti itu semua hanya sebuah sekenario Tuhan untuk melatih hamba-hamba pilihannya. Adul sudah tiada, namun tangisan keluarga masih mengiringi gelap pagi itu, sedangkan budi sesekali tersenyum lebar karna meyakini bahwa kehidupan si Adul jauh lebih nyaman sekarang disbanding dengan kehidupannya. Disisi lain, dia juga bersedih karna tidak akan ada lagi tangisan, tidak akan ada lagi badut, gigi kecil mungil dan cerita ganasnya penyakit meningitis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar